Desa Pkujati berada di wilayah kecamatan Paguyangan kabupaten Brebes Jawa tengah, 5km ke arah barat dari Paguyangan. Pakujati memiliki tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian karena letak geografisnya yang diapit oleh perbukitan.
Disebelah selatan terdapat hutan pinus milik perum perhutani yang berbatasan dengan desa kedungoleng. Kemudian di sebelah utara merupakan perkebunan milik warga yang berbatasan dengan desa Traban.
hutan-hutan ini selain berfungsi sebagai paru-paru juga sekaligus sebagai daerah resapan yang berfungsi mengendalikan ketersediaan air manakala datang musim kemarau.
Selain itu Pakujati juga dilintasi oleh dua anak sungai yaitu sungai Pemali dan sungai Jati.
Sungai Pemali bersumber dari waduk penjalin yang berada di desa Winduaji. Sungai ini mengalir ke arah barat sepanjang lereng-lereng hutan pinus hingga bermuara di wilayah Brebes. Di sungai ini terdapat banyak pintu-pintu air peninggalan jaman Belanda yang sampai saat ini masih berfungsi dengan baik dan sangat berguna bagi pertanian.
Sungai Jati berhulu di pegunungan kaligua, meskipun sungai ini lebih kecil dibandingkan dengan sungai Pemali, namun keberadaanya sangat bermanfaat bagi pertanian di Pakujati bagian utara. Sungai ini mengalir ke arah barat menyusuri perkebunan milik warga, hingga kemudian bertemu dengan aliran sungai Pemali di wilayah paling ujung barat Pakujati, tepatnya di dukuh Cangkaraun.
Pakujati dalam sepuluh terakhir ini mengalami pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Selain menjadi daerah penghasil tepung tapioka dan beras, juga merupakan sentra peternakan ayam buras terbesar di Brebes selatan.
Dinamika kehidupan masyarakat Pakujati begitu nampak. Hal ini menunjukan betapa prekonomian di desa ini memang sedang menggeliat bangkit.
sektor pertanian dan industri perdagangan merupakan komoditi utama yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan sehingga angka pengangguran pun relatif menurun.
Pembangunan sarana dan prasarana infra struktur yang telah dilakukan dan terus berkesinambungan menandakan bahwa pemerintahan desa telah bekerja dengan baik dan semestinya. Jika dibandingkan dengan wilayah sekitarnya, Pakujati nampaknya jauh lebih tampil cantik dan unggul dalam banyak hal, baik pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan desa. Ditambah lagi dengan tipikal masyarakatnya yang agamis, menjadikan kondisi desa ini senantiasa aman dan nyaman.
Namun benarkah dibalik penampilan cantiknya Pakujati tidak ada permasalahan mendesak yang jika tidak ditanggulangi dengan segera maka hal ini akan dapat berdampak buruk bagi warga masyarakatnya?
Ternyata memang ada..
Sebagaimana yang kita ketahui, Pakujati adalah merupakan sentra peternakan ayam, buras terbesar di wilayah Brebes. Tentu saja hal ini sangat brpengaruh terhadap dampak lingkungan.
Lingkungan yang bersih dan sehat adalah dambaan setiap orang. Dimanapun kita tinggal di suatu tempat, kebersihan dan kesehatan tentu selalu menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan karena kesehatan merupakan harta yang tidak ternilai. Labih berharga dari harta dan benda. Maka dari itu lebih baik menjaga kesehatan daripada mengobati atau memelihara penyakit.
Namun agaknya kesadaran seperti inilah yang belum menyentuh hati nurani para pelaku usaha ternak ayam di Pakujati. Mereka masih seenaknya sendiri mendirikan kandang-kandang ayam tanpa menngindahkan jarak ideal antara kandang ayam dengan wilayah hunian warga.
Atau barangkali warga masyarakatpun masih belum sampai pada pemikiran yang peduli akan pentingnya hidup sehat, sehingga bau kotoran ayam yang lumayan menyengat dan juga lalat-lalat yang berkeliaran di wilayah hunian warga seolah-olah bukan lagi permasalahan. Bukan polusi dan bukan pencemaran.
Aparat pemerintah yang berwenang mengatur lingkungan masyarakat pun seakan-akan tidak pernah melihat dan peduli apa yang sedang dan akan terjadi di lingkungan pakujati. Aturan hukum yang mengatur jarak ideal antara kandang ayam dengan hunian warga tidak pernah tersosialisasikan dengan baik sehingga yang terjadi kemudian adalah, seorang pengusaha ternak ayam merasa bebas dan sah-sah saja mendirikan kandang ayam meski jaraknya terlalu dekat dengan hunian warga.
Pencemaranpun semakin meluas di seluruh sudut-sudut Pakujati seiring dengan semakin semrawutnya lokasi kandang-kandang ayam. Udara bersih dan sehat menjadi barang langka. Dan tanpa disadari setiap detik kita terpaksa menghirupnya untuk beberapa tahun kemudian menuai dampak buruknya. Tragis.
Entah sampai kapan keadaan seperti ini akan terus berlangsung. Sungguh sangat disayangkan ketika semangat membangun desa dan meningkatkan kemakmuran masyarakat tidak disertai dengan semangat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkunga.
Setidaknya kesadaran ini penting demi kelangsungan hidup bersama. Logikanya, hidup sehat adalah hak setiap orang.
Sebetulnya bukan langkah sulit bagi aparat pemerintah yang punya wewenang mengontrol dan mengatur lingkungan. Hanya saja dibutuhkan komitmen dan juga pola pikir yang waras/cerdas untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
"..tata titi tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi.."
Tentu bukan sekedar pitutur orang tua yang tanpa makna.
by : TANTRA art & gallery karangbawang - PAKUJATI
Rabu, 27 Januari 2010
Budaya adalah cermin kepribadian bangsa.
Sebuah bangsa akan dipandang bermartabat apabila budaya yang ditampilkan menunjukan kecerdasanya serta memenuhi unsur-unsur ESTETIKA dan KEMANUSIAAN.
Nilai-nilai estetika dan kemanusiaan sepertinya telah semakin tergerus oleh euforia bangsa ini menuju era globalisasi.
Generasi muda kehilangan jati diri dan bahkan semakin tercerabut dari akar budaya bangsanya sendiri. Budaya adiluhung telah berevolusi menjadi budaya-budaya kontemporer yang tidak sedikit diantaranya amat sangat miskin estetika dan kemanusiaan. Tontonan yang dapat berfungsi sebagai tuntunan semakin langka. Orientasi materialistis semakin mengalahkan idealisme, budaya anarkisme merajalela, ada apa dengan bangsa ini..?
Melalui mimbar bebas ini saya pribadi ingin sekali meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya. Karena carut marut berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini pun sesungguhnya merupakan akumulasi dari semakin musnahnya nilai-nilai ESTETIKA dan KEMANUSIAAN dari akal fikiran dan hati nurani bangsa ini.
karangbawang jan'2010
by : TANTRA art & gallery karangbawang - PAKUJATI
Sebuah bangsa akan dipandang bermartabat apabila budaya yang ditampilkan menunjukan kecerdasanya serta memenuhi unsur-unsur ESTETIKA dan KEMANUSIAAN.
Nilai-nilai estetika dan kemanusiaan sepertinya telah semakin tergerus oleh euforia bangsa ini menuju era globalisasi.
Generasi muda kehilangan jati diri dan bahkan semakin tercerabut dari akar budaya bangsanya sendiri. Budaya adiluhung telah berevolusi menjadi budaya-budaya kontemporer yang tidak sedikit diantaranya amat sangat miskin estetika dan kemanusiaan. Tontonan yang dapat berfungsi sebagai tuntunan semakin langka. Orientasi materialistis semakin mengalahkan idealisme, budaya anarkisme merajalela, ada apa dengan bangsa ini..?
Melalui mimbar bebas ini saya pribadi ingin sekali meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya. Karena carut marut berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini pun sesungguhnya merupakan akumulasi dari semakin musnahnya nilai-nilai ESTETIKA dan KEMANUSIAAN dari akal fikiran dan hati nurani bangsa ini.
karangbawang jan'2010
by : TANTRA art & gallery karangbawang - PAKUJATI
Langganan:
Postingan (Atom)
